57 Siswa korban PSB online tetap ditampung

Solo (Espos)    Sebanyak 57 calon siswa yang menjadi korban sistem penerimaan siswa baru (PSB) online akhirnya tetap diakomodasi di sekolah pilihan, sesuai dengan hasil pengumuman pertama, Rabu (9/7) lalu.

Dari 112 pengaduan yang masuk ke Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora), hanya 57 calon siswa yang akhirnya ditampung, sementara 55 lainnya tidak diakomodasi mengingat hingga batas akhir komplain, Jumat (11/7), tidak mengajukan hak komplain mereka. Ini menyusul terpentalnya sejumlah nama calon siswa akibat kenaikan passing grade dalam pengumuman susulan Kamis (10/7). ”Kami menerima sebanyak 112 pengaduan. Kalau data kesalahan itu benar, kami pastikan calon siswa diterima di sekolah yang diinginkan,” kata Kepala Disdikpora, Drs Amsori SH MPd, di sela-sela menemui Walikota di Rumah Dinas Walikota Loji Gandrung.


Amsori menambahkan, konsekuensi penambahan daya tampung juga tidak akan mempengaruhi kepentingan sekolah, mengingat jumlah penambahan tidak sebesar yang diperkirakan.
Sementara Ketua Pelaksana PPDB online Kota Solo, Drs Budi Sartono MSi mengungkapkan, untuk tingkat SMA, jumlah pengaduan terbanyak di SMA Negeri 6 Solo. Sedangkan, SMP merata terjadi di 11 sekolah mengumumkan hasil pada hari Rabu. Tentang kemungkinan banyak warga yang tidak tahu kebijakan baru yang dikeluarkan dalam waktu relatif mepet ini ditampik Budi.
”Banyaknya masyarakat yang tidak komplain, mungkin disebabkan masyarakat tidak lapor ke Disdikpora atau memang masyarakat memang tidak mau menggunakan hak tersebut. Sosialisasi tentang ini saya pikir juga sudah diketahui seluruh sekolah,” ujarnya.

Darurat
Sementara itu orantua calon siswa, Ny Sri Lestari, akhirnya bisa bernafas lega saat anaknya mendapatkan rekomendasi, dan bisa diterima kembali di SMPN 12. ”Akhirnya anak saya sekolah juga di SMP 12 Solo. Tadinya, sempat terpental,” ungkapnya.
Tidak semua komplain dilayani pihak sekolah. Di SMAN 4 Solo, pihak sekolah mengambil langkah memberikan pengertian kepada orangtua calon siswa yang terpental namanya dari daftar untuk bisa menerima hasil pengumuman versi Kamis.
”Ada sekitar enam yang mengadu. Saya beri pengertian, bahwa yang benar adalah pengumuman hari Kamis. Saya hanya ingin mengembalikan persoalan ini ke proses yang benar saja,” ungkap Kepala SMAN 4 Solo Drs Edy Pudiyanto.
Edy menambahkan, penambahan daya tampung tidak masalah asal dilakukan secara proporsional. ”Kalau menambah kelas justru jadi bumerang, karena sekolah swasta bisa tidak kebagian murid. Saya pikir kondisi sekarang ini memang darurat. Ini sebenarnya bukan solusi tepat, tetapi ini yang paling aman dilakukan, dengan tetap mempertimbangkan pelayanan pendidikan yang optimal.”
Ketua Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) SMA sekaligus Kepala SMAN 1 Solo Drs HM Thoyibun SH MM mengungkapkan, penambahan daya tampung justru akan terkesan justru sebagai kemunduran.
”Sekarang saja kami sudah mulai mengurangi pelan-pelan. Mulai dengan hanya 38 siswa. Kalau lebih dari 40 siswa akan muncul masalah, apalagi kalau sampai tambah kelas,” ujar Thoyibun. Dia menambahkan, kasus komplain tidak terjadi di sekolahnya. Thoyibun mengharapkan Disdikpora nantinya kembali mengecek ulang apakah benar nama-nama yang direkomendasi adalah benar mereka yang namanya terpental karena sistem.
Pada bagian lain, Komisi IV DPRD Kota Solo mendesak penyelesaian yang seadil mungkin. Menurut Ketua Komisi IV DPRD Kota Solo, Satriyo Hadinagoro seluruh masyarakat tidak perlu resah dengan munculnya kesalahan teknik yang ada. Terpisah, Walikota Solo Joko Widodo merasa dipermalukan dengan kekacauan pelaksanaan PSB online. ”Isin aku. Apalagi masalah anak mencari sekolah. Itu masalah sensitif. Jadi kalau orangtua marah seperti itu ya wajar,” ujar Walikota kesal.
Walikota mengatakan akan mereformasi total jajaran Disdikpora hingga tingkat bawah tanpa menunggu penetapan struktur organisasi dan tata kerja (SOTK). Kekesalan Jokowi diluapkan dengan memanggil seluruh pejabat terkait di lingkup Disdikpora seusai salat Jumat di Loji Gandrung. Dalam pertemuan yang digelar secara tertutup ini berjalan cukup singkat. Hanya sekitar lima menit mereka berada di dalam ruang rapat Loji Gandrung. ”Orang hanya saya marah-marahi saja. Tidak saya beri ruang untuk penjelasan. Apalagi yang mau dijelaskan. Semua sudah jelas,” kata Jokowi di Loji Gandrung. – Oleh : m61/aro/isw

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: