Cuci Tangan Biar Bersih, selanjutnya makan-makan

Dari release radar solo hari ini, ternyata mulai ada aksi cuci tangan, melihat kejadian pelemparan tanggungjawab, saya sudah melihat TIGA kali kejadian untuk pelemparan tanggung jawab ini, yaitu

  1. Menyalahkan PT. TELKOM, dikiranya Jaringan PT. TELKOM yang error padahal sebenarnya jaringan PPDB yang Error, saya masih ingat pada waktu itu Pak Dwi (Manager PT. Telkom) marah besar dikarenakan Statement dari Dikpora, sampai-sampai mau membawa ke jalur Hukum.
  2. Menyalahkan hacker yang bermain dalam perubahan data.
  3. Menyalahkan Mahasiswa Pendamping dalam hal ini adalah TKJ UNS, saya melihat ini adalah keterlaluan seorang pemimpin menyalahkan anak buahnya sendiri dan diekspos di luar, pemimpin yang baik akan tetap menjaga dan melindungi bawahannya, karena mereka satu TIM. Bukan MENGORBANKAN mereka untuk keselamatan sendiri. Bukan tipe pemimpin yang dapat dicontoh, saya yakin orang-orang bawahannya pasti sekarang sangsi, jangan-jangan saya orang kecil juga akan digitukan suatu saat. Analisis yang kedua jika mahasiswa ini disalahkan adalah, tahun lalu mahasiswa ini juga terlibat, posisinya sama namun kenapa tahun kemarin lancar-lancar saja. Ada apa dengan tahun ini, padahal mahasiswa semakin tahun seharusnya semakin bagus kualitas keilmuannya. Kemungkinannya adalah SISTEM yang di BUAT tidak USER FRIENDLY yang kedua adalah SISTEMNYA ERROR. Kenapa yang disalahkan bukan pembuatnya, kenapa tim pendamping? Dan yang paling penting posisi mereka adalah TIM Pendamping BUKAN ENTRY DATA.

Dari kejadian itu bisa dipastikan bahwa keadaan di DIKPORA masih labil EMOSInya, sedangkan tuntutan masyarakat adalah DIKPORA harus bisa menjawab pertanyaan PUBLIC. Kematangan emosi seorang pemimpin sangat menentukan arah kebijakan suatu institusi. Sikap Emosional yang ditunjukkan dengan menuduh HACKER jadi biang keladi, kemudian Tim Pendamping(padahal team work mereka sendiri) dan Jaringan PT. TELKOM adalah suatu sikap yang menandakan bahwa kematangan emosional seseorang masih diragukan.

Saran saya adalah,

  1. Fal yaqul khoiron au yasmut, Biacaralah yang BENAR atau DIAM, maaf neeh ada dalil disini.
  2. Hadapilah semua dengan sabar, innallloha maashobirin. Sesungguhnya wastainuhu bishobrihi washsholah…. (dan selesaikan masalah dengan sabar dan Sholat)
  3. Mungkin perlu ESQ Traninning neeh.
  4. Kita harus intropeksi diri, bukan melempar tanggung jawab ke orang lain. Minta maaf ke masyarakat SOLO. Saya tahu orang-orang DIKPORA capek dengan komentar orang-orang, mungkin sudah 1 minggu tidak dapat tidur pulas. Namun hal yang terpenting adalah kesalahan-kesalahan yang sudah diperbuat dengan MENDHOLIMI orang tua murid MBOK jangan ditambah-tambahi dengan mendholimi ORANG LAIN LAGI, apalagi anak buahnya sendiri yang notabene adalah mahasiswa yang tidak tahu persis, mereka hanya pendukung dibalik kejadian itu.
  5. Jadikan kejadian ini sebagai pengalaman untuk tahun depan. Semoga tahun depan lebih baik.

Rasanya saya tidak pantas untuk terlalu panjang mengutarakan disini. Maaf pak ustadz yang membaca ini…

Astaghfirullahal adzim….. semoga alloh mengampuni hamba-hambanya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: