PSB online versus PSB manual

Menjelang tahun ajaran baru 2009/2010, pengelola pendidikan di sekolah cukup sibuk. Kesibukan itu meliputi persiapan UASBN, Ujian Sekolah dan Ujian Nasional (UN) untuk kelas terakhir. Sedangkan agenda sekolah untuk kelas di bawahnya adalah persiapan kenaikan kelas dengan mempersiapkan ulangan umum semester dan kegiatan-kegiatan lainnya. Rangkaian kegiatan ini semua bertujuan mengantarkan para peserta didik agar sukses dalam belajar. Namun dari semua rangkaian kegiatan itu, yang tidak kalah pentingnya adalah persiapan penerimaan siswa baru (PSB), istilah terakhir yang dipakai adalah penerimaan peserta didik baru (PPDB). Karena mulai dua tiga tahun lalu, Kota Solo menerapkan PSB online, maka istilahnya menjadi PPDB online yaitu penerimaan siswa baru dengan model seleksi elektronik via internet atau perangkat komputer yang bisa diakses secara langsung. Tujuan PPDB online antara lain untuk mengurangi, bahkan menghilangkan kecurangan-kecurangan yang merugikan pihak yang berkepentingan yaitu siswa dan orangtua siswa. Tujuan lainnya, diharapkan lebih transparan, akuntabel dan akomodatif, tidak membedakan peserta didik dari sekolah swasta maupun negeri. Itu konsep awal dan filosofi PPDB online. Refleksi Pelaksanaan PPDB online tahun-tahun sebelumnya perlu dievaluasi, sejauh mana keberhasilannya, sudahkah tercapai tujuannya? Bagaimana respons para orangtua siswa, bagaimana tanggapan sekolah swasta maupun negeri? Adakah pihak-pihak yang merasa dirugikan oleh PPDB online ini. Kesemuanya ini perlu dilacak dan dipastikan jawabannya. Hal itu berguna untuk menata lebih baik proses penerimaan siswa baru pada tahun baru berikutnya. Selama pelaksanaan PPDB online, tidak sedikit keluhan masyarakat dan pihak-pihak yang merasa dirugikan. Keluhan itu dari peserta didik maupun orangtua siswa, berupa pelayanan yang membingungkan, orangtua siswa harus ke sana kemari untuk mengurusi PPDB sehingga banyak menyita waktu dan cukup melelahkan. Sudah begitu, ujung-ujungnya mereka mendapat sekolah yang sebenarnya kurang diminati. Keluhan lain datang dari sekolah swasta. Dari segi teknologi, pada tahun lalu, PPDB online jelas mengecewakan. Situs tidak bisa diakses, data siswa tumpang tindih sehingga membingungkan publik. Ada calon peserta yang jatuh sakit dan dirawat di rumah sakit karena syok berat karena tidak diterima di sekolah pilihannya padahal sehari sebelumnya namanya masih terpampang. Bahkan Walikota sempat gerah dengan kekacauan online tersebut. Kemudian dari segi alternatif pilihan. Peserta PPDB mempunyai pilihan dengan ketentuan 2:2 (dua sekolah negeri, dua sekolah swasta tanpa urutan/acak). Kenyataannya, pilihan sekolah swasta jatuh pada urutan 3 dan 4. Biasanya pada daftar ulang, calon siswa sudah terserap sekolah negeri. Apalagi, sekolah swasta biasanya dijadikan pilihan cadangan. Dengan demikian, kuota penerimaan siswa di sekolah swasta tidak terpenuhi. Karena tidak terpenuhi, sekolah terancam tidak beroperasi alias tutup. Pada tahun ajaran 2009/2010 nanti, diperkirakan jumlah calon pendaftar di tingkat SMP/MTs di Kota Solo ke jenjang selanjutnya (SMA/SMK) kurang lebih sama dengan tahun lalu. Sedangkan daya tampung SMA/SMK juga masih sama. Perhitungan daya tampung rasionya sama dengan output sekolah jenjang di bawahnya ditambah 10% pendaftar dari luar kota, dikurangi 5% yang mendaftar ke luar kota. Dengan demikian, daya tampung SMA/SMK negeri dibanding SMA/SMK swasta di Kota Solo bisa dipatok 1:1. Artinya, calon siswa boleh mendaftar sekolah negeri satu pilihan dan satu pilihan di sekolah swasta secara acak. Inilah solusi terbaik jika PSB tetap menggunakan model online. Solusi ini akan menjamin pemerataan daya tampung, sehingga tidak akan ada yang dirugikan. Catatannya, teknologi online harus ditingkatkan beserta SDM pengelolanya, sehingga tidak akan lagi ditemui kekecewaan para pendaftar. Namun jika solusi tersebut tidak bisa dipenuhi oleh otoritas pengambil kebijakan maka kembali ke model PSB manual akan lebih baik dengan catatan harus ada peningkatan pengawasan dengan melibatkan pejabat lintas sektoral secara proporsional. Artinya, pengawasan PSB tidak sampai melampaui kewenangan panitia atau tidak boleh ada intervensi secara teknis. Pertimbangan pokok perlunya PSB dikembalikan ke sistem manual (offline) antara lain untuk menghindari high cost. Tahun lalu, PPDB online menyerap biaya yang tidak sedikit, tidak sebanding dengan hasil yang diperoleh. Satu hal yang perlu menjadi catatan selama ini adalah perlu adanya pembatasan daya tampung sekolah negeri (khususnya SMA). Selama ini, daya tampung sekolah negeri terkesan dipaksakan sehingga pelayanannya menjadi tidak efektif karena overload. Pernah ada keluhan dari seorang kepala sekolah negeri tentang overload ini. Kalau diibaratkan mengendarai mobil, sekolah yang siswanya overload, kepala sekolah ibaratnya mengendarai mobil sedan, jalannya halus, mulus dan ringan, mudah sampai tujuan. Tetapi bagi sekolah yang siswanya terlalu besar, kepalanya bagaikan mengendarai truk tronton penuh muatan, berat dan terseok-seok, meskipun sampai juga ke tujuan. Duduk satu meja PSB adalah agenda tetap yang harus dijalankan. Agar pelaksanaannya tertata, akomodatif, transparan dan akuntabel, PSB perlu direncanakan dengan matang melibatkan stakeholders (pihak terkait) yang berkompeten. Di antaranya pejabat Pemkot, inspektorat, Dinas Dikpora, perwakilan pengawas sekolah menengah, DPKS, DPRD, MKKS, BKS, LSM pendidikan dan yang dipandang perlu. Hal ini perlu ditempuh mengingat kelanjutan studi ke jenjang sekolah yang lebih tinggi adalah hak peserta didik. Sedangkan para pejabat terkait tersebut wajib memberi pelayanan sebaik-baiknya. Jika hal ini bisa dijalankan secara konsekuen, dipastikan pendidikan Kota Solo akan maju. Mengapa demikian? Bagi peserta didik, mendapat sekolah sesuai dengan minatnya akan memberi spirit baru untuk berprestasi. Sebaliknya, jika peserta didik masuk ke sekolah yang sesungguhnya tidak diminati, berarti dipaksa. Hal ini secara psikologis sangat berpengaruh terhadap kelangsungan studi selanjutnya. Penulis berharap wacana ini dapat menjadi pembelajaran kita semua. Semoga. – Oleh : Drs Dalyono Sholeh, Kepala SMA Al-Islam 2 Solo

http://www.solopos.co.id:81/zindex_menu.asp?kodehalaman=h04&id=263999

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: